loading...

Khitan Dengan Cara Konvensional Lebih Minim Resiko




Khitan atau sunat dapat dilakukan dengan berbagai teknik seperti tradisional, konvensional, dan modern. Teknik konvensional banyak dilakukan di rumah sakit dengan istilah Dorsal Slit.

Khitan Dengan Cara Konvensional Lebih Minim Resiko
Khitan Dengan Cara Konvensional Lebih Minim Resiko
Teknik konvensional menggunakan alat bedah, gunting, pinset dan benang jahit. Teknik ini berbeda dengan teknik laser atau electric cauter.

“Teknik laser itu hanya istilah. Sebenarnya electric cauter. Memang lebih cepat electric cauter jika ada pendarahan langsung tertutup. Namun kita tak bisa kontrol dengan pendarahan yang terjadi,” kata Ketua Panitia Bakti Sosial Sunatan Massal HUT ke-25 RS Puri Cinere, dr Agus Budhy Suwono, Selasa (20/11).

Agus yang juga dokter emergency menjelaskan, teknik konvensional lebih kecil risiko jika terjadi pendarahan. Jika terjadi pendarahan maka langsung dijahit.

“Memang lebih lama, tapi ke belakangnya lebih aman. Satu anak bisa 15-20 menit tergantung ada komplikasi atau tidak. Misalnya fimosis, itu lengket kulitnya,” kata Agus.

Menurutnya, usia ideal khitan tidak ada batasan. Hal itu juga sering disesuaikan dengan budaya di masyarakat.

“Tergantung budaya dan suku, ada yang baru lahir sudah disunat. Intinya dianjurkan paling tidak anaknya sudah berani. Masalah usia tak ada patokan,” katanya.

Menurut Agus teknik konvensional membutuhkan waktu 3-5 hari baru boleh beraktivitas normal untuk mempercepat penyembuhan. Anak saat disunat sebaiknya tidak berontak untuk meminimalisir pendarahan.

Baca Juga:



“Di rumah sakit kami kerjakan yang konvensional dulu. Karena itu yang diajarkan oleh guru-guru kita terdahulu. Kalau smart klem hanya pengembangan,” tegas Agus.